Warkop Menjamur Di Kertosono "GIRAS" Siap Bersaing

Wartajatim.com, NGANJUK - Nongkrong sudah menjadi budaya. Banyak cafe menawarkan sajian khas berselera. Tak harus mahal, warung kopi (Wakop) pinggir jalan pun bisa jadi lokasi favorit pilihan. Asalkan suasana nyaman dan aman dengan dompet. Seiring dengan itu, warkop pun menjamur. Mulai warkop murahan hingga yang cukup bergengsi terlihat di sudut-sudut kampung. Pengusaha warkop dadakan pun bermunculan. Warkop pun menjadi tren usaha yang mudah dilakukan siapa saja dan cepat menguntungkan. Apalagi, didahului dengan survey sebelum membuka warkop.

Anak-anak Kertosono tak bisa dipisahkan dari khas cangkrukan bareng, ngopi bersama, kopi darat, atau istilah lain sejenisnya. Kini bagi yang berkantong tipis tempat tongkrongan pinggir jalan-pun seperti warkop menjadi pilihan.

“Saya sering ngopi di jalan Lengkong - Pandantoyo, tempatnya nyaman buat nongkrong dan obrol sama teman,” kata Bachtiar, salah seorang mahasiswi sebuah perguruan tinggi swasta di wilayah Kediri. Disini dia biasa mengadakan janji dengan teman-temannya usai pulang kuliah.“Anak-anak sering nongkrong di sini,” ujar Haqi pemilik warung Giras 86.

Jalur lengkong - Pandotoyo masuk dalam jajaran warkop paling dicari. Tak jarang, pengunjung betah berlama-lama di sini demi secangkir kopi. “Paling banyak malam hari usai Maghrib hingga dini hari,” tambah pria yang akrab disapa Haqi.

Kebiasan ‘ngopi’ di kedai, cafe atau coffee shop memang sudah jadi bagian dari gaya hidup masa kini. Hal tersebut membuat bisnis warkop, cafe dan coffee shop menjamur. Berbagai jenis kopi juga ditawarkan. Misalnya, kopi Giras menu andalan warkop Giras yang komposisinya dirahasiakan, katanya sudah turun-temurun dari keluarga.(yan/linduaji)