Unhawa Gelar Seminar Nasional Revolusi Industri 4.0

INDONESIASATU.CO.ID:

JOMBANG - Universitas KH Abdul Wahab Hasbullah (Unwaha) Tambakberas, Jombang, Jawa Timur menggelar seminar nasional untuk mahasiswa, dosen dan masyarakat umum, Sabtu (29/9). Seminar tersebut mengangkat tema “Peran Pemuda dalam Perkembangan Pendidikan  Sains dan Teknologi pada Era Revolusi Industri 4.0.

Hadir sebagai pemateri yaitu Rektor Unwaha Prof Dr H Anton Muhibuddin, perwakilan Kementrian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) Anggia Ermarini dan Prof Dr H Ali Mudlofir dari Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya.

Kegiatan ini terbagi dalam dua sesi, pertama sesi seminar dan kedua parallel discussion. Materi paralel discussion dari lintas disiplin ilmu pengetahuan.

Menurut Prof Dr H Anton Muhibuddin Indonesia punya peluang besar menjadi negara maju. Karena pada tahun 2030 nanti Indonesia akan memiliki bonus demokrasi yang melimpah. Hal ini tentu menjadi potensi besar untuk membangun negara sebesar Indonesia.

Bonus demografi menurut penjelasnya adalah sebuah kondisi di mana jumlah populasi usia produktif di Indonesia lebih banyak dari usia nonproduktif. 

“Indonesia memiliki bonus demografi yang melimpah pada tahun 2030 mendatang. Bonus ini bisa jadi potensi besar bila generasi milineal saat ini punya jiwa kompetitif dan melek dunia industri,” katanya.

Lanjut Prof Anton, bonus demografi menjadi tantangan apakah bangsa Indonesia siap lepas landas menuju negara maju atau justru sebaliknya, tertimpa bencana demografi.

Idealnya menurut Prof Anton negara yang mendapat bonus demografi pertumbuhan ekonominya akan terpacu, sektor riil terdongkrak, dan daya saing meningkat.

Secara normatif, bonus demografi seyogianya membawa sebuah negara menuju arah lebih baik, khususnya membawa kesejahteraan untuk segenap tumpah darahnya.

“Unwaha membekali mahasiswa untuk bersaing di era revolusi industri 4.0. Langkah menuju kesana sudah kita bangun dengan mengirim para mahasiswa untuk magang di negara lain. Agar wawasannya global dan terbuka dalam kemajuan,” bebernya.

Alumnus Universitas Brawijaya Malang ini menegaskan syarat sebuah negara sukses melewati bonus demografi yaitu menciptakan sumber daya manusia berkualitas, sistem perekonomian yang jelas, pemerintahan yang kondusif, tersedia lapangan kerja, dan sejumlah syarat lainnya.

“Menghadapi bonus demografi maka kita harus menguatkan sistem pendidikan. Salah satunya yaitu memperbanyak sarjana kompeten dibidangnya dan siap saing. Karena di Indonesia pendidikan angkatan kerja masih ada yang sebatas Sekolah Dasar (SD). Bahkan ada yang tidak mengenyam pendidikan. Ini harus dihapus, agar tak jadi beban negara dikemudian hari,” ungkapnya.

Sementara itu, salah satu peserta dari Dosen Bahasa Inggris Unwaha bernama Ahmad Kanzul Fikri menjelaskan negara yang sukses menghadapi bonus demografi yaitu Jepang. Negeri matahari terbit itu mengalami pertumbuhan penduduk akibat baby boom pada masa setelah perang dunia kedua.

Pemerintah Jepang bisa bergerak cepat memanfaatkan bonus demografi. Mereka segera menggenjot industrialisasi dan dari sana mulailah inovasi-inovasi unggul mencuat ke persaingan dunia. Hingga kini, Jepang menguasai industri otomotif dengan merk besar seperti Yamaha, Honda dan Suzuki.

“Jepang pernah mengalami titik terendah dalam sejarah saat negara mereka dijatuhkan bom atom oleh negara sekutu. Tapi mereka bangkit dan kini malah menjajah Eropa dan Amerika dengan industri otomotifnya,” paparnya.

Gus Fikri panggilan akrabnya menyebutkan hal lain yang perlu diperhatikan oleh generasi muda dalam menghadapi revolusi industri 4.0 yaitu etos kerja yang baik dan beberapa hal lainnya. Antara lain yaitu disiplin dalam bekerja, mengutamakan kewajiban diatas hak, jujur, kemampuan bahasa asing, dan semangat belajar yang tinggi.

“Sebenarnya santri punya modal bagus dalam menghadapi revolusi industri 4.0. Karena selama di pondok santri diajari jujur, ikhlas, bertanggung jawab dan spiritual. Tinggal menambahkan dengan kemampuan bahasa Inggris dan bahasa Arab agar bisa masuk ke masyarakat internasional,” jelas Gus Fikri.

Selain itu, dalam menghadapi revolusi industri 4.0 Indonesia juga perlu fokus mengelola kelebihan khusus. Seperti panorama pantai yang indah dan udara dingin pegunungan. Karena anugerah lahiriah bagi Indonesia, kekuatan alami negara terbesar keempat di dunia ini.

“Setelah sumber daya manusia ditingkatkan, Indonesia juga perlu fokus menggarap kelebihan negara kita yang tidak dimiliki negara lain. Seperti ombak pantai di Bali, udara dingin di Kota Batu dan Wonosobo. Untuk pengelolaan ini maka berikan kepada kaum muda, biarkan mereka berkreatifitas,” tandasnya.

Reporter : fredy 

Editor : Abdurrahman

  • Whatsapp

Berita Terpopuler

Index Berita