Santri Bahrul Ulum Berbagi Tips Cara Memperoleh Beasiswa Ke Cina

INDONESIASATU.CO.ID:

JOMBANG - Terpilih menjadi warga negara Indonesia yang mendapat beasiswa ASEAN Sun Yat-Sen University Ghuangzou China layaknya mimpi bagi santri bernama Maulidin Al Ghifari. Sempat gagal pada percobaan pertama namun ia bangkit dan akhirnya berhasil lolos pada percobaan berikutnya.

“Dulu awal saya mendengar adanya beasiswa ke Tiongkok hanya bualan atau mustahil terjadi pada saya. Tapi dengan niat yang bulat, tekat yang kuat akhirnya saya mencoba dan mengambil langkah itu. Apa salahnya juga bagi semua insan yang ingin mencoba,” jelasnya kepada NU Online, Rabu (15/8)

Alumni Madrasah Muallimin Muallimat Atas (MMA) 6 Tahun Bahrul Ulum ini mengatakan langkah awal yang mendorong dirinya untuk mengambil beasiswa ke China karena ingin mengetahui kemampuan dirinya saja. 

“Bila saya tidak mencoba maka saya tidak akan mengetahui hasilnya, jangan takut untuk mencoba. Itu saja point pentingnya. Karena selama ini banyak santri yang minder kalau berkaitan dengan hal baru terutama yang tak berkaitan dengan agama atau pesantren,” tambah Maulidi.

Pemuda asal Sidoarjo ini memberikan kiat-kiat bagi santri Indonesia yang ingin lanjut studi ke luar negeri terutama Negara China. Menurutnya hal pertama yang harus dilakukan adalah menguatkan niat serta menyakin diri bahwa semua bisa dilalui. Tahap selanjutnya, baru mulai mencari link beasiswa dan alangkah lebih baiknya mendapat informasi dari senior satu almamater karena akan banyak membantu.

“Bagi santri yang mau ke China maka harus menyiapkan persyaratan administrasi dulu. Mulai dari paspor, surat keterangan kesehatan, surat rekomendasi kepala sekolah/madrasah, surat rekomendasi dari ketua yayasan pondok pesantren. Selain itu, juga harus disiapkan transkip nilai, surat rekomendasi dari guru bahasa inggris, translate ijazah dan terpenting satu sertifikat karna itu yg mengukur prestasi kita,” bebernya.

“Semua persyaratan yang saya sebutkan tadi harus lengkap dan jangan sampai kurang apalagi sampai telat. Karena seleksinya ketat sekali, sekali kita santai maka ditinggal gerbong. Ada sekitar 2000 calon mahasiswa dan semua bersaing menjadi terbaik. Jadi semua harus serba cepat sesuai tanggal yang telah dijadwalkan dan baru siap tes,” ujar Maulidi

Maulidi memaparkan, proses perjalanan beasiswanya butuh waktu panjang dan menegangkan. Setelah semua berkas lengkap ia harus menunggu cukup lama untuk keterangan lulus atau tidak. Baru setelah Idul Fitri 1439 H ada pengumuman hasil seleksi dan ia dinyatakan gagal.

“Dari tiga siswa-siswi MMA peserta seleksi yang diterima hanya satu yakni Nimas Sida Ayu. Ia diterima lewat jalur Chinese Goverment Scholarship. Untung ada senior saya disana bernama Rifgy asal Mojokerto yang menyarankan saya mengambil jalur beasiswa ASEAN di Sun Yat-Sen. Sempat sedih karena sudah persiapan sejak bulan desember tahun 2017 tapi gagal,” cerita Maulidi

Saat bahagia itu datang juga, tepat tanggal 20 Juli 2018 Maulidi mendapatkan kabar kalau lolos beasiswa ke China. Ia mengaku merinding dan sempat tidak percaya. Ia lolos bersama teman satu almamaternya bernama Achmad Marzuqi dari Kabupaten Kediri.

Ia juga sudah mengungkapkan akan berjuang mengharumkan nama santri di China. Lewat prestasi dan sikap sopan santun. Dan ia juga mengaku akan bersikap seperti biasa di China, seperti sarungan dan tahlilan. Layaknya budaya khas Nahdlatul Ulama atau Islam Nusantara. Bahkan untuk menyakinkan para gurunya, Maulidi membeli dan membawa kaos bertulisan Nahdlatul Ulama saat berkunjung ke madrasah.

“Setelah tahu lolos, mendadak saya terdiam sejenak tak tahu apa yg harus dilakukan beriktunya. Dalam suasana kaget itu saya sadar bahwa tidak ada senjata ampuh selain do'a kedua orangtua dan para guru. Selain persyaratan administrasi ada juga hal lain yaitu doa. Saya lalu berfikir bisa apa saya tanpa do'a orangtua dan bisa apa tanpa do'a restu para guru. Oleh karenanya, saya ingatkan diri sendiri bahwa wajib bagi saya menemui guru saya dan minta doa restu sebelum berangkat ke China. Sebentar lagi kami akan terbang ke negeri tirai bambu,” tandasnya.

Dihubungi terpisah, Ketua Yayasan Pesantren Bahrul Ulum Jombang, KH Wafiyul Ahdi mengaku kaget mendengar kabar tiga santrinya lolos seleksi kuliah di China. Namun disisi lain ia juga mengungkapkan rasa kagum pada tiga santrinya ini. Ini menandakan bahwa pesantren bisa bersaing bersama ribuan siswa lainnya.

Ketika pertama kali mendengar info tuga santri lulusan Madrasah Muallimin Muallimat Bahrul Ulum Tambakberas diterima jadi mahasiswa di China. Saya tertawa antara heran dan kagum. “Ketemu pirang perkoro” santri yang tiap pagi berangkat sekolah pakai sendal jepit sambil membawa kitab kuning itu kok bisa lolos beasiswa ke China dan menyingkirkan ribuan pendaftar?. Tapi setelah mereka pamitan kesini, ternyata benar dan nyata,” pungkasnya.(solid/kla)

  • Whatsapp

Berita Terpopuler

Index Berita