Ribuan Masyarakat Tulungagung Gelar Grebeg Bhineka Tunggal Ika

INDONESIASATU.CO.ID:

TULUNGAGUNG - Ribuan masyarakat dari berbagai kalangan berbaur menjadi satu dalam kegiatan "Grebeg Bhinnekha Tunggal Ika. Kegiatan kali ini  adalah yang kedua kalinya dan dipusatkan dilapangan kecamatan Boyolangu kabupaten Tulungagung, Selasa (20/11). Acara diawali dengan berbagai atraksi kesenian antara lain penampilan Barongsai, Tiban, Reyog dan jaranan serta tampilan baju adat pengantin "Gagrak Putri Gayatri".

Hadir dalam acara tersebut Wakil ketua DPRD Jawa Timur Kusnadi SH MHum, Plt Bupati Tulungagung Drs Maryoto Bhirowo MM, Ketua DPRD Tulungagung Supriyono Msi, Wakapolres Tulungagung Kompol Andik Gunawan serta pejabat Forkopimda lainnya.

Menurut Plt Bupati Tulungagung Maryoto Bhirowo, Grebek Bhinnekha Tunggal Ika tersebut merupakan buah pemikiran berbagai pihak, termasuk akademisi, tentang lahirnya slogan pemersatu bangsa yang mana  diketahui dicetuskan oleh Putri Gayatri, istri Raja Majapahit pertama, Raden Wijaya yang bergelar Kertarajasa Jayawardhana.

“Grebek Bhineka Tunggal Ika bertujuan untuk mengenang sejarah pendirian negara Indonesia. Melalui semangat Bhinneka Tunggal Ika dijadikan sebagai  perekat menuju persatuan dan nilai luhur yang menjadi roh NKRI,” ujar Maryoto Birowo.

Dalam sejarahnya Putri Gayatri adalah ibu dari Raja ke-3 Majapahit, Tribuwana Tunggadewi dan nenek dari Hayam Wuruk, raja yang membawa Mapapahit mencapai masa kejayaan.

Bentuk peninggalan sejarah yang berupa Petilasan putri Gayatri yaitu  berupa Candi Gayatri di Desa Kecamatan Boyolangu. Hingga kini  Candi Gayatri diyakini sebagai tempat penyimpanan abu Gayatri.

Sementara itu Ketua Panitia Grebek Bhineka Tunggal yang juga sekaligus Ketua Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI) Ir Sukriston, Putri Gayatri telah melahirkan gagasan Bhineka Tunggal Ika sejak jaman kerajaan Singosari bahkan  pemikiran ini sudah ada, sebelum ditulis dalam kitab Sotasoma oleh Empu Tantular.

“Maha Patih Gajah Mada adalah salah satu didikan dari Gayatri yang mempunyai semangat untuk mempersatukan Nusantara,” terang Sukriston.

Oleh sebab itu Tulungagung dianggap punya peranan penting dalam perjalanan sejarah Gayatri, dan tentunya melahirkan Bhineka Tunggal Ika. Semangat ini yang kini dihidupkan di tingkat lokal Tulungagung untuk merangkul semua golongan. 

Dalam acara grebek Bhinneka Tunggal Ika kali ini diikuti sekitar ribuan peserta dari para pemangku adat, penghayat kepercayaan, pondok pesantren dan lintas umat yang terlibat.

“Inilah jawaban masyarakat Tulunaggung di tengah isu intoleransi dan perselisihan antar kelompok. Harapannya semoga Tulungagung tetap damai, rukun agar masyarakat bisa bekerja dengan tenang,” terang Sukriston.

Semoga generasi muda Tulungagung memahami arti penting Bhineka Tunggal Ika dalam perjalanan bangsa. Pemikiran cemerlang Gayatri ini terbukti bisa perekat persatuan di tengah keberagaman.

“Kami berharap anak muda Tulungagung meneruskan cita-cita ibu Gayatri. Menciptakan perdamaian di tengah keberagaman masyarakat,”pungkasnya .

Kegiatan diakhiri dengan tradisi nyekar di petilasan putri Gayatri atau candi Gayatri.(im/jie/kla) 

  • Whatsapp

Index Berita