Kades Begendeng di Laporkan ke Kejaksaan Terkait Jual Tracktor Milik Gapoktan

INDONESIASATU.CO.ID:

NGANJUK - Kasus dugaan menjual tracktor roda empat milik Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sumber Pangan, dilaporkan Agus Musonif dan M.Syarif, ke Kejaksaan Negeri Nganjuk, Jumat (12/10/)

Agus Musonif dan M.Syarif mendatangi Kantor Korp Adhiyaksa di Jalan Dermojoyo Nganjuk tersebut sambil membawa sejumlah berkas dan diterima oleh Kasi Pidsus Kejari Nganjuk, Eko Baroto SH, diruang kerja Kasi Datun Kejari Nganjuk.

Lanjut Agus Musonif,
sesuai data dan bukti yang dikantonginya, pihaknya merasa yakin bahwa Kades Dahlan adalah pelaku yang telah menjual tracktor roda empat milik Gapoktan Desa Begendeng, yang bersumber dari dana APBN tahun 2016.

“Semua keterangan, data dan lainnya yang kami dapatkan, mengarah pada sosok Dahlan sebagai pihak yang telah menjual tracktor milik petani tersebut,” terangnya.

Ditambahkan Agus Musonif, dengan kejadian raibnya tracktor tersebut, negara mengalami kerugian sebesar 300 juta rupiah lebih, dan imbasnya para petani tidak bisa memanfaatkan dan menggunakan tracktor tersebut.

“Ini perbuatan melawan hukum, dan para petani yang menjadi korban. Untuk itu kami minta Kejari Nganjuk segera menindaklanjuti laporan kami,” kata Musonif.

Terpisah, Kasi Pidsus Kejaksaan Negeri Nganjuk, Eko Baroto SH, membenarkan telah menerima laporan dari salahsatu warga terkait dugaan korupsi. Namun pihaknya masih belum bisa mengatakan siapa pihak yang dilaporkan tersebut.

“Laporan masih kita pelajari, untuk sementara kita belum bisa menyebut nama, siapa pihak yang dilaporkan,” terangnya.

Diberitakan sebelumnya, keberadaan tracktor roda empat milik Gapoktan
Sumber Pangan Desa Begendeng, menjadi misteri. Padahal, awal mula keberadaan tracktor tersebut, berada dirumah Kades Dahlan.Akantetapi, tracktor tersebut tiba-tiba raib, dan tersiar kabar bahwa tracktor tersebut sudah dijual oleh Kades Dahlan.

Namun saat itu Kades Dahlan mengelak telah menjual tracktor milik Gapoktan. Pihaknya berdalih bahwa saat itu, posisi tracktor sedang beroperasi atau disewakan diluar wilayah Desa Begendeng. Dan saat ini tracktor tersebut sudah kembali atau berada dirumahnya.

“Demi Alloh tidak benar kabar itu (tracktor dijualnya.. red), waktu itu tracktor disewa di desa lain. Dan karena rumah ketua Gapoktan sempit tidak ada tempatnya, maka tracktornya saya taruh disini. Itu buktinya tracktor masih ada,” ucap Dahlan sambil mempersilahkan melihat fisik tracktor disamping rumahnya.

Namun selang beberapa waktu, misteri itu raibnya tracktor selama ini terkuak kebenarannya. Bahwa Kades Dahlan secara diam-diam diduga telah menjual tracktor roda empat, melalui seorang makelar bernama Kip.
Dan sandiwara ini akhirnya terkuak karena ocehan dari Kip, sebab Kip kecewa kepada Kades Dahlan yang telah ingkar janji kepadanya. Karena sesuai kesepakatan, Kip dijanjikan fee 2,5 juta rupiah jika berhasil menjual tracktor tersebut. Namun setelah tracktor tersebut terjual, ternyata Kip hanya diberi fee 1,5 juta rupiah oleh Kades Dahlan.

Selanjutnya, untuk mengelabuhi tindakannya tersebut, Kades Dahlan mendatangkan Satu unit tracktor roda empat, yang kondisinya masih baru belum terpakai, dan Kades Dahlan mengklaim bahwa tracktor tersebut adalah tracktor milik Gapoktan.

Akantetapi setelah dilakukan pengecekan terhadap tracktor tersebut, ternyata banyak ditemui kejanggalan, salahsatunya adalah nomor mesin tracktor tersebut tidak sesuai dengan nomor mesin tracktor milik Gapoktan Sumber Pangan, yang data dan spesikasinya ada di Kantor Dinas Pertanian Kabupaten Nganjuk.

Terpisah Plt Kepala Dinas Pertanian Daerah Kabupaten Nganjuk, Ir Istanto menerangkan bahwa, Pemerintah Pusat melalui Dinas Pertanian Daerah Kabupaten Nganjuk telah memberikan
bantuan satu unit tracktor roda empat kepada Gapoktan Sumber Pangan, Desa Begendeng Kecamatan Jatikalen.

“Tracktor tersebut diberikan kepada Gapoktan Sumber Pangan pada Tahun 2016, nama ketua Gapoktan Sumber Pangan adalah Sudar Suwignyo,” terangnya.

Dan bantuan tracktor tersebut tidak boleh dipindahtangankan dan diperjualbelikan dengan alasan apapun, sebab program Pemerintah Pusat ini bertujuan membantu petani menggarap sawahnya.

“Jadi, jika ada yang berani menjual tracktor tersebut, tanggung sendiri akibatnya,” seru Istanto.

(sumber pledoi.co/tim)

  • Whatsapp

Berita Terpopuler

Index Berita