Hukum Merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW Menurut Sejumlah Ulama

INDONESIASATU.CO.ID:

JOMBANG - Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ternyata masih menjadi perdebatan di antara umat muslim dunia.

Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW yang akan segera diperingati pada hari Selasa (20/11/2018) besok, merupakan tradisi di kalangan umat Muslim, terutama di Indonesia.

Dilansir wartajatim.com melalui Harakahislamiyah.com, setiap bulan Rabiul Awal mereka memeriahkan bulan dan hari kelahiran Nabi SAW dengan cara berkumpul membaca kisah Nabi SAW, tabligh akbar, dan lain sebagainya.

Kebanyakan ulama membolehkan merayakan maulid Nabi Saw, dan sebagian kecil ulama melarang.

Di antara ulama yang membolehkan adalah Imam Al-Suyuthi (w. 911 H) berkata dalam kitabnya Al-Hawi lil Fatawa;

عندي أن أصل عمل المولد الذي هو اجتماع الناس وقراءة ما تيسر من القرآن ورواية الأخبار الواردة في مبدأ أمر النبي صلى الله عليه وسلم وما وقع في مولده من الآيات، ثم يمد لهم سماط يأكلونه وينصرفون من غير زيادة على ذلك هو من البدع الحسنة التي يثاب عليها صاحبها لما فيه من تعظيم قدر النبي صلى الله عليه وسلم وإظهار الفرح والاستبشار بمولده الشريف

“Menurut saya, hukum pelaksanaan maulid Nabi Saw, yang mana pada hari itu masyarakat berkumpul, membaca Al-Qur’an, dan membaca kisah Nabi Saw pada permulaan perintah Nabi Saw serta peristiwa yang terjadi pada saat beliau dilahirkan, kemudian mereka menikmati hidangan yang disajikan dan kembali pulang ke rumah masing-masing tanpa ada tambahan lainnya, adalah bid’ah hasanah. Diberi pahala orang yang memperingatinya karena bertujuan untuk mengangungkan Nabi Saw serta menunjukkan kebahagiaan atas kelahirannya.”

Sedangkan pendapat Imam Ibnu Hajar Al-Haitami (w. 973 H) juga membolehkan merayakan maulid, sebagaimana disebutkan oleh Imam Al-Halbi dalam kitabnya Al-Sirah Al-Halbiyah berikut;

سنة متفق على ندبها وعمل المولد واجتماع الناس له كذلك اي بدعة حسنة

“Kesimpulannya bahwa bid’ah hasanah telah disepakati kesunnahannya. Melakukan maulid dan berkumpulnya manusia untuk maulid juga termasuk bid’ah hasanah.”

Imam Ibnu Abidin Al-Hanafi (w. 1252 H) mengatakan;

اعلم ان من البدع المحمودة عمل المولد الشريف من الشهر الذي ولد فيه صلى الله عليه وسلم

"Termasuk bid’ah terpuji adalah melakukan maulid di bulan Nabi Saw dilahirkan.”

Adapun di antara ulama yang melarang adalah Ibnu Taimiyah (w. 728 H). Beliau berkata dalam kitabnya Iqtidhaus Shirathil Mustaqim berikut;

وكذلك ما يحدثه بعض الناس إما مضاهاة للنصارى في ميلاد عيسى عليه السلام وإما محبة للنبي صلى الله عليه و سلم وتعظيما له والله قد يثيبهم على هذه المحبة والاجتهاد لا على البدع من اتخاذ مولد النبي صلى الله عليه و سلم عيدا مع اختلاف الناس في مولده

“Begitu pula halnya dengan kebiasaan yang dilakukan oleh sebagian orang, adakalanya perbuatan mereka menyerupai tingkah laku Nasrani dalam memperingati kelahiran Nabi Isa. Adakalanya juga maksud mereka adalah mencintai dan mengagungkan Nabi Saw. Allah memberi ganjaran kepada mereka dikarenakan kecintaan dan kesungguhan mereka, dan bukan karena bid’ah dengan menjadikan maulid Nabi Saw sebagai hari raya padahal para ulama telah berselisih pendapat mengenai tanggal kelahiran beliau.”

Dari beberapa pendapat ulama tersebut dapat disimpulkan bahwa kebanyakan ulama membolehkan dan menilai bid’ah yang baik (hasanah) dan terpuji.

Sementara menurut Harakahislamiyah.com, sebagian lainnya melarang dan menilai bid’ah makruhah.(oji/kla) 

  • Whatsapp

Index Berita